Dalam sebuah acara yang diadakan salah satu anak perusahaan saya, salah satu sahabat saya Bp. Teguh, Komisaris Kospin Jasa Pekalongan dalam sambutannya menceritakan sebuah kisah tentang pedagang garam yang biasa mengirim dagangannya dengan truk ke kota – kota di pulau jawa, suatu ketika sopir truk yang membawa barang dagangannya melaporkan kepada sang majikan bahwa grosir – grosir tidak ada yang mau menerima lagi garam yang dibawanya karena harganya terlalu mahal, sang sopirpun bingung karena menurut pengetahuannya tidak ada kenaikan harga sedikitpun, dalam percakapan telpon dengan sang majikan sopir menanyakan apa yang harus diperbuatnya karena perjalanan sudah terlalu jauh, menurut sang pedagang cobalah minta tolong untuk titip saja ke grosir yang sudah dikenal baik karena kalau diteruskan perjalanan akan rugi, dan kalau dibawa pulangpu bagaimana akan terjual? Akhir cerita, terpaksa sang sopir membawa kembali garamnya karena tidak ada satupun grosir yang bersedia untuk dititipi dagangannya. Apa yang sesungguhnya terjadi? Ternyata sang pedagang tidak pernah menyangka bahwa hari ini di grosir – grosir telah banyak beredar garam impor yang harganya jauh lebih murah dari garam yang dijualnya.
Ya Allah, apa yang sedang menimpa bangsaku? Hampir seluruh hadirin yang mendengar cerita pak Teguh tak kuasa menahan rasa sedih, membayangkan keadaan bangsa ini, semakin hari sepertinya semakin banyak kisah sedih yang harus didengar.
Garam impor hari ini bisa masuk dengan bebas ke Indonesia karena pasar bebas yang diberlakukan di negeri ini.
Seandanya Penguasa bisa memiliki perasaan yang sama dengan yang dirasakan oleh pedagang garam, seandanya para pebisnis yang mengimpor garam bisa memiliki perasaan yang sama dengan pedagang garam, mungkin kisah sedih pedagang garam tidak perlu kita dengar pada malam itu.
Skenario ekonomi dunia hari ini, maju atau tidaknya sebuah bangsa ditentukan oleh maju atau tidaknya sektor swasta, berapa jumlah pebisnis yang ada di suatu Negara menentukan kuat atau lemahnya ekonomi sebuah Negara.
Namun bagi Indonesia, pebisnis ternyata tidak kita butuhkan! Korupsi terbesar BLBI senilai Rp. 600 trilyun di negeri ini dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai pebisnis. Perusakan hutan dan pencurian kayu secara besar – besaran hingga membuat Negara China mampu menimbun kayu mentah asal Indonesia secara illegal dilakukan oleh mereka yang mengaku dirinya sebagai pebisnis. Indonesia jelas tidak membutuhkan pebisnis! Indonesia juga tidak membutuhkan Penguasa, masuknya garam impor adalah sebuah sikap enteng para Penguasa yang membuka pasar bebas tanpa kecerdasan. Dan bukan hanya pedagang garam saja yang bergurguran, namun juga petani kentang, petani beras, produsen tekstil, elektronik, hingga industri pesawat terbang hari ini tidak bisa menjual produknya di negerinya sendiri.
Untuk mengatasi tantangan ke depan, bangsa Indonesia membutuhkan pejuang! Indonesia tidak membutuhkan pebisnis, karena yang dibutuhkan adalah pebisnis yang pejuang. Pegawai pajak tidak diperlukan di Indonesia, karena yang diperlukan adalah pegawai pajak yang pejuang. Polisi juga tidak perlu, karena Indonesia perlu polisi yang pejuang. Wakil Rakyat tidak ada gunanya di Indonesia, karena Indonesia membutuhkan wakil rakyat yang pejuang. Dan Indonesia tidak perlu ada penguasa, karena Indonesia memerlukan penguasa yang pejuang.
Untuk maju, Indonesia hanya butuh Pejuang, bukan yang lain!
http://www.facebook.com/heppytrenggono HEPPY TRENGGONO